Inspektorat Konkep Cium Aroma Korupsi di Desa Saburano, Warga Minta Pidanakan Kadesnya

  • Whatsapp
Proyek tahun 2019 Desa Saburano Pembangunan Talud Penahan Ombak yang Ambruk. Diduga Dikerja asal-asalan

  • Liputan Kolaborasi Wartawan, Kasus Dugaan Korupsi Kades Saburano

WAWONIINEWS.COM: LANGARA – Ada dugaan tindak pidana korupsi terkait penggunaan Dana Desa (DD) dan Anggaran Dana Desa (ADD) pada Desa Saburano Kecamatan Wawonii Timur, Kabupaten Konawe Kepulauan (Konkep) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra).

Aroma dugaan tindak pidana korupsi itu ditujukan pada Abdul Rasyid selaku Kepala Desa (Kades) Saburano. Pasalnya, Kades Saburano Abdul Rasyid selalu menghilang saat tim Inspektorat Konkep melakukan pemeriksaan fisik.

Kepala Inspektorat Konkep, Engu Liokta Dias

Kepala Inspektorat Konkep, Engu Liokta Dias membenarkan Kades Saburano selalu mangkir dari pemeriksaan instansinya itu. Tahun 2019 pembangunan tanggul yang dilakukan Kades Saburano tidak sesuai perencanaan, akibatnya tanggul itu roboh.

Bobroknya kinerja Kades Saburano membuat sejumlah warganya melaporkan ke Inspektorat setempat untuk dilakukan pemeriksaan. Menanggapi laporan warga Saburano saat itu, Inspektorat melakukan pemeriksaan khusus (Pensus) pada tahun 2020 lalu terkait pembangunan tanggul tahun anggaran 2019 itu. Sayangnya Kades Saburano Abdul Rasyid menghilang dari pemeriksaan.

Lebih jauh Engu sapaan akrabnya mengatakan, pemeriksaan anggaran 2020 yang pihaknya lakukan tahun ini mengalami kendala karena ulah Abdul Rasyid (Kades) tersebut yang melarikan pemeriksaan.

“Kami tangguhkan lagi pemeriksaannya dan akan kami jadwalkan lagi. Kalau nanti masih tidak kooperatif maka kami akan limpahkan ke penegak hukum sebab sudah tidak bisa dibina,” jelas Kepala Inspektur Engu Liokta Dias kepada Wartawan, Kamis (18/2/2020).

Hal senada juga diutarakan Ketua tim pemeriksa desa Inspektur Pembantu (Irban) wilayah I Kecamatan Wawonii Timur, Hj. Suriawaty, bahwa pihak Inspektorat sudah menyurati dan berusaha menghubungi Kades Saburano (Abdul Rasyid) tetapi lagi-lagi tidak pernah digubris Abdul Rasyid.

“Saat tim kami lakukan pemeriksaan fisik pertanggungjawaban keuangannya tahun anggaran 2020 pada tanggal 4 Februari 2021 lalu, Kades tersebut sudah menghilang. Menurut warga setempat mereka sudah tidak pernah melihat Kades tersebut sejak empat bulan lalu,” tambahnya.

Selain pihak Inspektorat Konkep yang mencium adanya aroma korupsi Kades Saburano, sejumlah warga desa tersebut juga mengakui hal itu kepada Abdul Rasyid.

Sejumlah Perangkat Desa Saburano, Kecamatan Wawonii Timur

Bendahara Desa Saburano, Erwin (35) tak napikan kondisi desanya yang yang bobrok dibawah pimpinan Abdul Rasyid. Bahkan pernyataan erwin bikin terkejut sejumlah Wartawan, dikatakan Erwin sejak tahun 2020 sejumlah perangkat Desa Saburano baru tiga (3) bulan honor mereka yang dibayarkan dari Kadesnya.

“Saya saja bendaharanya tidak tau dimna keberadaan Kades. Padahal honor kami untuk tahun 2020 dari 13 perangkat desa baru 3 bulan yang dibayarkan,” tuturnya.

Erwin bilang, Kades Saburano tidak melibatkan perangkatnya termasuk Bendahara desanya untuk kegiatan desanya, misalnya aitem pekerjaan tahun 2019 dengan total ADD Rp. 386.104.000 dan DD sebesar Rp.781.989.888.

“Pengadaan penerangan lampu jalan memang ada fisiknya tetapi itu pengadaan tahun 2017 saat masih Pelaksana Desa yang menjabat. Kemudian pembangunan sarana pos Posyandu itu tidak ada fisiknya karena setau saya sudah bertahun- tahun tinggal di desa ini tetapi pos Posyandu masih menumpang ke pos Posyandu Desa Wakadawu (desa tetangga). Padahal anggarannya itu ada pak, seperti pembangunan talud penahan ombak Rp. 320 juta lebih, harusnya gunakan cincin tapi faktanya batu disusun akhirnya ambruk. Kemudian sejak tahun 2019 sampai 2020 pencairan anggaran saya tidak pernah dilibatkan padahal pencairan ADD dan DD itu Bendahara dilibatkan berarti jelas Kades Saburano ini memalsukan tanda tangan ku,” ceritanya dengan nada kesal kepada Wartawan.

Perangkat lainnya, Sumardin (37) mengungkapkan pada tahun 2020 lalu tak satupun aitem kegiatan pekerjaan desa yang diketahui telah dilakukan oleh Kades Saburano. Kalau pun ada tetapi tidak sesuai dengan hasil Musawarah Desa (Musdes).

Dukungan rumah layak huni memang ada yaitu bantuan atap 800 lembar tetapi itu tidak sesuai hasil Musdes. Parahnya lagi pembangunan jalan usaha tani (JUT) tidak ada sama sekali fisik pembangunannya. Padahal anggarannya kita tau Rp.458 juta lebih, inikan fiktif pak,” ungkap Sumardin kepada Wartawan.

Salah satu perwakilan warga Desa Saburano, Rahmad (37) mengatakan sekitar 85 persen warga desa itu sudah tidak menginginkan lagi Abdul Rasyid sebagai Kades Saburano, bahkan warga meminta agar Kades Abdul Rasyid dipidanakan.

“Coba saja lakukan door to door ke rumah warga hampir semua inginkan Kades dipidanakan karena perbuatannya yang keterlaluan. Seperti pembangunan talud atau bronjong yang tidak sesuai volume pekerjaan fisiknya ada pengurangan volume 15 meter dari total panjang 100 meter,” kata Rahmad.

Rahmad bilang, banyak kegiatan di desa ini yang fiktif seperti pembangunan JUT saja sudah sangat jelas. Sebab anggarannya besar fisiknya tidak ada.

“Saya secara pribadi akan segera melaporkan ke pihak penegak hukum untuk ditelusuri masalah ini. Jangan hanya administrasi yang bagus fakta lapangan tidak ada,” pungkasnya.

Untuk diketahui besaran Dana Desa (DD) tahun 2020 Desa Saburano sebesar Rp.902.300.000. Dari angka itu sebesar Rp.458 juta lebih dianggarkan pembangunan JUT, namun JUT tersebut faktanya di lapangan tidak ada fisiknya.

  • Liputan ini merupakan hasil kolaborasi sejumlah wartawan antara media Wawoniinews.com, Karyasultra.id, Sultranews.co.id, Tegas.co. –

Penulis: Aan Ahmad/Sofyan

Pos terkait