Pencairan Beasiswa Wawonii Cerdas Telat Karena Sistem di Bank

  • Whatsapp
Safiudin Alibas

WAWONIINEWS.COM – Pencairan Beasiswa Wawonii Cerdas (BWC) tahap I tahun 2021 telah dilakukan pihak panitia. Namun masih ada saja sorotan dari kalangan mahasiswa penerima. Berbagai pertanyaan diajukan pada pihak Pemerintah Daerah Konawe Kepulauan sebagai pemberi bantuan.

Ketua Panitia BWC, Safiudin Alibas, lantas memberi penjelasan kepada para penerima melalui media ini. Kata dia, sistem di bank tidak melakukan transfer pada hari Jumat, Sabtu, dan Minggu, dikarenakan satuan kerja (Satker) mengikuti sistem di bank yang hanya beroperasi pada hari kerja.

Bacaan Lainnya

“Beberapa hari ini bank tutup, jadi kalau hari libur itu tidak dapat melakukan pengiriman. Server bank tutup setelah Jumat sore dan akan dibuka pada Senin pagi. Sedangkan persoalan saldo kurang itu adalah ketentuan manajemen bank, ketika saldonya kosong rekening ditutup. Dikarenakan untuk pembayaran pajak saja tidak mencukupi untuk mengaktifkan rekening tersebut. Misalkan saldonya hanya Rp2.000, ya jelas bank tutuplah (rekening). Maka harus ada saldo minimal untuk mengaktifkan kembali rekening,” jelas Safiudin saat ditemui di ruangannya, Senin (26/07/21).

Safiudin Alibas juga memaparkan mengenai aturan penerima beasiswa. Bagi mahasiswa umum, minimal Rp1 juta dan maksimal Rp2 juta, karena Bupati Konkep menginginkan BWC untuk Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP). Kebijakan pemerintah yang mengatur penyaluran beasiswa dari institusi langsung ke institusi, bertujuan memperluas akses anak-anak sekolah.

“Di aturan kita bunyinya begini, untuk mahasiswa umum minimal 1 juta maksimal 2 juta, mereka maunya 2 juta (semua rata).
Pertanyaannya, kalau SPPnya 1,6 juta terus yang 400 kemana? Bayangkan mahasiswa kesehatan kalau diikuti dan rata-rata SPP kesehatan itu 3 sampai 4 juta, adil tidak dengan SPP yang hanya 1,6 juta?” katanya.

Lanjut Safiudin, pemberian bantuan pendidikan harusnya berdasarkan kajian kebutuhan. Akan tetapi, kadang sudah kebablasan. Bahkan banyak mahasiswa yang menganggap anggaran BWC adalah uang milik mereka.

“Ini adik-adik mahasiswa kita masih mengikuti emosinya, seakan-akan uang tersebut adalah uang mereka. Keliru, itu uang negara,” terang Safiudin.

Maka dari itu, ke depan penyaluran beasiswa tidak lagi melalui person ke person. Akan kerjasama institusi ke institusi. Sebab tidak lagi menjamin, mahasiswa penerima bantuan pendidikan untuk pembayaran SPP tidak digunakan sebagaimana mestinya.

“Ini saya lagi cari waktu PPKM dicabut di Kota Kendari. Saya ketemu wakil rektor dan saya akan kumpul semua wakil rektor serta mahasiswa untuk membahas hal tersebut dan kami mau seperti itu,” tukasnya.

Untuk diketahui pendaftar BWC sebanyak 1.456 orang dan terverifikasi 1198 orang, yang terbagi dari 7 kecamatan. Namun masih ada beberapa berkas yang masih dalam perbaikan administrasi.

Penulis : Aan Ahmad
Editor: Gugus Suryaman

Pos terkait