Empat Tahun Kepemimpinan Kades Janus Munandar, Kini Desa Langara Tanjung Batu Naik Status

  • Whatsapp
Janus Munandar

WAWONIINEWS.COM : KONKEP – Desa Langara Tanjung Batu berkedudukan di Kecamatan Wawonii Barat Kabupaten Konawe Kepulauan (Konkep) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra).

Langara Tanjung Batu merupakan desa pemekaran dari induknya yakni Langara Bajo pada tahun 2012, baru memiliki kepala desa defenitif pada tahun 2017. Indeks Desa Membangun (IDM) Langara Tanjung Batu yang dulunya masuk status “Sangat Tertinggal” kini telah naik menjadi “Desa Berkembang”. Hal itu tercantum dalam kategori di IDM Kementerian Desa.

Bacaan Lainnya

Profil Kepala Desa

Peningkatan status IDM Desa Langara Tanjung Batu itu tak terlepas dari kerja keras sang pemimpin, Janus Munandar, kepala desa defenitif pertama di wilayah tersebut.

Tahun 2017 Janus Munandar dilantik berdasarkan hasil Pilkades serentak pertama di Konkep pada 10 Oktober 2017. Kemudian dilantik 27 November 2017.

Sejak itu, ia mulai menyusun strategi dengan perangkatnya untuk membangun desa. Alhasil, tahun 2020 IDM desa itu berubah status menjadi desa berkembang dari kategori desa sangat tertinggal.

“Yang membuat naik statusnya karena banyaknya bantuan rehab perumahan warga yang tidak layak. Tahun 2020 sebanyak 140 rumah tidak layak telah direhab jadi layak. Berkat bantuan dari kementrian PUPR ywng namanya adalah BSPS,” katanya.

Kondisi kesejahteraan masyarakat kala itu masih dominan prasejahtera. Artinya masih banyak masyarakat berpenghasilan menengah kebawah, sekitar 40 persen kata Janus.

Data Kades
Nama: Janus Munandar, SE
TTL: Langara, 1 September 1986
Pendidikan: Unsultra tahun 2015
Nama Istri: Siti Salma
Anak: 2 orang

Aksesibilitas Desa

Desa Langara Tanjung Batu merupakan salah satu desa yang berada di ibu kota kabupaten. Sekitar 80 persen wilayahnya adalah laut. Penduduk desa 99 persen adalah suku Bajau (Bajo).

Untuk menuju desa ini akses dari jalan poros pelabuhan Ferry Wawonii sekitar 300 meter masuk ke wilayah Kelurahan Langara Laut dan Desa Langara Bajo. Setelah itu barulah memasuki wilayah Desa Langara Tanjung Batu.

Potensi Desa

Desa Langara Tanjung Batu ini memiliki potensi pada sektor perikanan, pariwisata baik wisata yang berbasis ekowisata, bahari, budaya dan wisata alamnya yang melimpah serta dengan tarian adat suku bajo. Kemudian potensi perkebunan.

Diakui Janus, masih ada kendala pada sarana penunjang potensi pariwisata.

“Belum dimanfaatkan titik-titik potensi objek wisata. Sebab desa ini merupakan desa baru hasil pemekaran desa unduknya tahun 2012. Defenitifnya tahun 2017. Sehingga penggunaan DD selama ini belum termanfaatkan untuk akses ataupun sarana dan prasarana titik2 objek pariwisata tersebut,” katanya.

Saat ini Pemdes setempat masih fokus pada peningkatan sarana penunjang masyarakat. Seperti yang pembangunan jembatan titian yqng permanen di dusun I sepanjang 85 meter. Jembatan itu juga dilengkapi dengan atapnya.

“Meski tanpa DD, kami juga berinovasi melakukan pengembangan potensi-potensi di desa. Seperti sektor pariwisata dengan melakukan MoU dengan yayasan Desa Wisata Nusantara (Dewisnu) pada tahun 2021 tentang pemetaan potensi eko wisata serta kajian akademisnya,” lanjut Janus.

Sasarannya, pada objek wisata mangrove dan wisata bahari. Karena wisata mangrove ini sudah memiliki desain dengan estimasi biaya sekitar Rp8 miliar lebih.

Selain itu, Desa Langara Tanjung Batu adalah salah satu desa binaan Yayasan Bina Insani Indonesia yang bergerak pada pembinaan program desa tentang pengembangan sumber daya manusia (SDM) termasuk kebutuhan fital masyarakat.

Bina Insani ini sudah memiliki kelompok usaha bersama (Kube) tentang pengembangan usaha ekonomi masyarakat di desa.
 
Salah satu prodak usaha masyarakat yang dibina adalah budidaya ikan kerapu dan pembinaan pembuatan kuliner.

Pengelolaan Anggaran

Janus mulai mengelola anggaran pada tahun 2018 dengan ADD Rp361 juta lebih dan DD Rp 707 juta lebih. Kemudian tahun 2019, ADD Rp 376 juta lebih dan DD Rp 744 juta lebih. Berikutnya tahun 2020, ADD Rp 356 juta lebih dan DD Rp 763 juta lebih.

Selama tiga tahun, banyak kemajuan yang dilakukan Kades. Seperti pengerjaan jembatan titian (semi permanen) 4 titik yang tersebar di tiga dusun.

Kemudian pembangunan gedung serba guna dengan luas 33×27 meter persegi. Pengadaan sarana prasarana perikanan, seperti mesin TS dan perahu Katinting, alat tangkap jenis pukat. Termasuk pembiayaan modal Bumdes.

Kemudian pengadaan sarana dan prasana perlengkapan kantor desa. Pengadaan sarana pencegahan dan penanganan Covid-19, pemberian BLT-DD masyarakat terdampak Covid.
Ada juga pengadaan alat kesehatan desa. Bahkan kegiatan pencegahan stunting.

Kegiatan peningkatan atau pelatihan kapasitas aparatur desa, kader posyandu desa, kader teknis desa, kader pemberdayaan masyarakat desa, kader tokoh agama desa.
Kemudian pembinaan karang taruna, pembinaan PKK dan majelis taklim.

Sedangkan tahun keempat kepemimpinan Janus, 2021, jumlah ADD Rp 374 juta lebih sedangkan DD Rp 795 juta lebih.

Berdasarkan hasil musdes tahun ini, anggaran DD itu lebih difokuskan pada program pemulihan ekonomi dan pencegahan Covid-19 yang berbasis SDGs desa. Karena itu juga adalah perintah pemerintah pusat dalam pencegahan wabah Covid ini.

“Mulai pembangunan posko Covid sampai dengan pada alat2 pencegahannya,” terangnya.

Namun program kegiatan fisik juga masih ada yang dibangun. Seperti pembangunan jembatan titian yang permanen sepanjang 85 meter dilengkapi atap sepanjang jembatan.

“Anggaran jembatan permanen itu sekitar Rp 390 juta lebih. Baru saja tuntas dikerjakan tahap tiga Desember ini,” rincinya.

Hadirnya DD sangat membawa perubahan positif yang sangat besar terhadap masyarakat. Pasalnya manfaat hadirnya DD dari sisi ekonomi masyarakat, tingkat kemiskinan masyarakat mengalami penurunan tiap tahun. Karena dengan DD berbagai sarana dan prasarana telah terbangun dan dirasakan langsung oleh masyarakat sehingga ekonomi masyarakat mulai membaik.

“DD ini masyarakat langsung yang rasakan dampak positifnya, akses masyakat jadi mudah beraktivitas. Ini adalah fakta nyata DD dapat membantu persoalan sosial masyarakat di desa Langara Tanjung Batu,” katanya.

Seperti persoalan sosial masyarakat tentang pembuangan sampah di sembarang tempat, dengan adanya DD masyakat diberikan pelatihan untuk pengolahan sampah agar tidak membuang sampah sembarangan.

Kemudian program inovasi desa sangat membantu karena program ini menawarkan solusi permasalahan selama ini yang ada di desa, khususnya desa Langara Tanjung Batu yang memiliki banyak potensi SDA yang dapat dikembangkan. Namun tidak dapat diikuti dengan SDM yang mempuni, sehingga pelatihan untuk peningkatan SDM sangat penting.

Oleh karena itu dengan hadirnya inovasi desa menawarkan solusi, utamanya dalam mengidentifikasi usaha masyarakat pemuda produktif di Desa Langara Tanjung Batu.

Sesuai program kerja Pemdes Langara Tanjung Batu yang termuat dalam RPJMDes Langara Tanjung Batu periode 2018-2023 yakni menumbuh kembangkan usaha produktif bagi usaha muda yang ada di desa Langara Tanjung Batu.

Harapannya, potensi desa khususnya wisata agar dibantu oleh pemda Konkep ataupun pihak investor yang bergelut dunia pariwisata.

Karena dengan pemanfaatan potensi itu dapat mengurangi jumlah pengangguran, juga tingkat kemiskinan masyarakat akan berkurang. Sebab akan membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat desa langara tanjung batu.

Desa Langara Tanjung Batu.
Luas wilayah 7.000.000 km².
Jumlah penduduk 987 jiwa.
Jumlah Kepala Keluarga (KK) 204.

*(ADV)

Pos terkait